Kucuran Dana untuk Waralaba

Kucuran Dana untuk Waralaba

Tingkat keberhasilan bisnis waralaba mencapai 95% lebih. Sayangnya tak semua orang memiliki dana untuk memulai usaha ini. BRI memberikan solusi lewat pembiayaan waralaba. Sukatna

Dalam sebuah bukunya E Myth Michael Gaeser mengungkapkan bahwa salah satu komponen utama kesuksesan sebuah perusahaan adalah adanya sistem yang hebat. Singkat kata, kata Michael Gaeser, orang biasa akan menjadi luar biasa kalau masuk ke dalam sistem yang luar biasa.
Pemikiran Gaeser ini barangkali bisa menjelaskan mengapa bisnis dengan pola waralaba mengalami booming. Selain “memberikan” pengalaman, ketenaran merek, franchisor juga memberikan sistem yang telah teruji kepada franchisee-nya. Oleh karena itu diyakini bahwa bisnis dengan pola waralaba merupakan jalan tersingkat seseorang untuk terjun ke bisnis tanpa harus bersusah payah merintis dari nol.
Sayangnya tidak semua orang yang berkeinginan terjun ke bisnis waralaba mempunyai cukup dana. Berbeda dengan bisnis yang dirintis sendiri, bisnis waralaba biasanya membutuhkan modal dalam jumlah tertentu. Padahal kendala permodalan, selama ini merupakan kendala utama yang banyak dikeluhkan oleh bisnis Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia.

Kenyataan empiris itulah yang mendorong bank pelat merah BRI untuk secara serius menggarap pasar tersebut. Selain bisnis waralaba bisa mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru, dalam perspektif perbankan juga memiliki masa depan yang prospektif. “Pembiayaan waralaba oleh BRI dimasukkan ke dalam kategori segmen ritel sektor ekonomi perdagangan umum,” ujar Kepala Divisi Kredit Ritel BRI Don Simatupang, di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.
Menurut Don, pembiayaan waralaba sebenarnya tidak berbeda dengan skim kredit pada umumnya. Perbedaannya, skim kredit waralaba yang ditawarkan kepada nasabah periodenya lebih panjang dibandingkan dengan skim kredit pada umumnya. “Ini disebabkan pay period average-nya tiga tahun,” jelas Don.

Mengenai plafon kredit, lanjut Don, seperti plafon kredit UKM lainnya yakni Rp 5 miliar. “Ini bukan berarti pinjaman di atas Rp 5 miliar tidak bisa kita layani, tetapi itu menjadi kavlingnya divisi yang berbeda,” terang Don.
Namun berbeda dengan skim kredit lainnya, skim kredit waralaba tidak menganganggap mutlak adanya jaminan tambahan aktiva tetap. “Ada beberapa hal yang kami nilai. Pertama apakah BRI dengan franchisor mempunyai hubungan kerja sama. Kalau ada ikatan kerja sama, franchisor kita minta membuka escrow account di BRI. Jika ada pola kerja sama, agunan berupa aktiva tetap tidak lagi mutlak,” tutur Don.

Dijelaskan Don, dalam kacamata perbankan, franchisor merupakan pihak yang membantu bank melakukan mitigasi risiko, sehingga risiko bisnis menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan skim kredit lainnya. “Pola-pola seperti ini yag akan kami kembangkan,” ucap Don seraya menyebutkan secara empiris 95% bisnis waralaba mendulang kesuksesan.
Oleh karena itu, ke depan bank yang terkenal fokus kepada nasabah UMKM ini, akan membuat Perjanjian Kerja Sama dengan sejumlah franchisor. “Ketika kita menjadi sponsor utama Franchise Fair 2007 banyak franchisor yang tertarik untuk bekerja sama,” imbuh Don.

Dengan adanya PKS tersebut, proses seleksi terhadap nasabah yang mengajukan pembiayaan waralaba tentu lebih cepat dan lebih fleksibel. “Kita melakukan komunikasi dengan franchisor dan mendengar masukan dari mereka,” sebut Don seraya menambahkan pihaknya terus memperbanyak data franchisor baik dari media cetak maupun dari media terkait lainnya.
Namun pada sisi lain Don mengakui BRI saat ini belum memiliki kodifikasi rekening khusus kredit waralaba karena skim kredit ini awalnya mengikuti skim kredit umum. Tetapi pada 2008, Don menargetkan BRI sudah memiliki rekening tersendiri untuk pembiayaan waralaba ini. “Menurut informasi saat ini ada 10 ribu gerai waralaba, kebanyakan masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Nanti kalau waralaba berkembang ke luar Jawa mungkin kita paling siap menyambut peluang ini,” katanya optimistis.

Sekalipun BRI belum memiliki rekening kredit tersendiri untuk waralaba, namun hampir semua cabang telah melakukan pembiayaan waralaba. Salah satunya BRI Kantor Cabang AH Nasution Bandung.
Menurut Pemimpin BRI Cabang AH Nasution Bandung, Sutarno, pihaknya telah memberikan pembiayaan waralaba ke sejumlah nasabah, di antaranya kepada Rukiyani Badar dan Suparjo. Rukiyani mendapat fasilitas pembiayaan membeli franchise Alfamart sedangkan Suparjo mendapat fasilitas pembiayaan waralaba untuk Alfamart dan Indomart.

Rukiyani Badar, mengaku terbantu dengan adanya fasilitas pemberian kredit waralaba BRI. Sebelum membeli franchise Alfamart, Rukiyani telah memiliki toko kelontong sendiri. Meski tokonya laris manis Rukiyani mengaku usahanya jatuh bangkrut dan menderita rugi Rp 175 juta. Ini disebabkan adanya pergerakan harga-harga yang tidak terkendali dan belum terlalu paham manajemen toko.
“Saya salut dengan BRI. Pada saat kami mengalami kebangkrutan, mereka memberikan pinjaman untuk pembelian franchise Alfamart. BRI lebih melihat langkah kami ke masa depan, sedangkan kegagalan di masa lalu dilihat sebagai sarana pembelajaran,” ujar pengusaha yang telah menjadi nasabah setia BRI sejak tahun 1989 ini.

Dengan adanya fasilitas pinjaman ini, Rukiyani yang dibantu Ina Mulyantini dalam pengelolaan Alfamart-nya ini, mampu menambah gerainya. Dalam satu tahun saja, Rukiyani mampu mengembangkan gerainya menjadi tiga buah, dan tahun depan menargetkan membuka dua gerai lagi sehingga total jenderal menjadi lima gerai dalam waktu dua tahun. “ Gerai kami di Jalan Cihanjuang tercatat beberapa kali membukukan penjualan terbanyak untuk gerai di Kabupaten Bandung dan Subang,” ujar Ina Mulyantini, Direktur CV Citra Baru, payung bisnis milik Rukiyani.

Mengenai tudingan bahwa gerai-gerai tempat perbelanjaan seperti Alfamart mematikan warung-warung tradisional, Ina menampiknya. Justru tempat perbelanjaan tersebut sebenarnya bisa bersinergi asal bersifat saling melengkapi. “Tidak semua item kebutuhan masyarakat ada di toko kami. Mereka bisa menjual item-item yang tidak kami miliki. Misalnya, kami hanya menjual beberapa buah impor, mestinya mereka bisa menjual buah yang kami tidak punya. Strategi ini ternyata bisa kami jalankan. Ada penjual buah di dekat gerai kami yang omsetya meningkat drastis. Bahkan tukang bubur ayam yang berjualan di depan toko kami bisa mendapatkan omset sekitar Rp 1,6 juta per bulan. Gerai kami bisa mendatangkan 500 konsumen lebih, mereka bisa nebeng dengan menjual item yang tidak ada pada kami,” ujarnya.

1 Response to "Kucuran Dana untuk Waralaba"

kreditukm.blogspot.com said...

Waralaba semakin meredup dengan semakin menjamurnya bisnis ini.

Followers